Setiap kelas punya karakteristik masing2. Begitu pula dengan siswa. Inilah seninya jadi guru. Punya member siswa sebanyak 30an per kelas. PER KELAS! Kepala jadi pening seketika kalo musti nurutin kata Menteri Anies,"tanya kepada siswa pembelajaran yang mereka inginkan," #sayapening
Solusinya gimana? Ya, banyakin saja variasi dalam pembelajaran. Oke bisa diterima, tapi variasi dalam pembelajaran juga perlu respons dari siswa. Artinya, siswa juga berperan aktif dalam pembelajaran. Akan repot kalo guru sudah melakukan variasi, siswanya adem adem aja, tidak mau berperan aktif. Trus maunya apa nih kira-kira? Apa maunya yang penting nyaman lah bu ae? Hah. Emang sekolah situ? Emang sekolah ini cuma sambilan daripada gak ngapa2in di rumah? Yang penting ada kegiatan di pagi hari gitu? Atau sekadar ngejalani salah satu proses dalam kehidupan? Wow SUPER SEKALI!
Sangat tidak bijaksana kalo kita bersikap egois. Misalnya saya selaku guru hanya akan mengajar. Toh, saya juga dibayar mau gimanapun cara mengajar saya. Dateng, minta siswa ngerjain LKS, saya nonton drama toh juga gak ada masalah, bukan? Trus siswa juga seenaknya sendiri. Masuk telat. Gak ikut dalam pembelajaran dengan berbagai alasan, gak ngerjain tugas. Ribut. Yang penting nyaman barataan lah. Berelaan. Tapi apa itu yang sama2 kita inginkan? Saya beberapa kali mungkin sudah menyampaikan bahwa siswa adalah generasi penerus. Di tangan generasi peneruslah kelangsungan negara ini berada. Saya ngeri ngebayangin Indonesia bakalan bubar kalo dipegang sama generasi bermental mafia. Aiiih, ibu sereem amat. Nggak. Kita optimis dengan pendidikan di Indonesia. Percaya bahwa masih banyak siswa yang baik. Siswa yang sama2 mau maju dan bekerja sama dalam hal positif.
Di IPA 1 sudah saya sampaikan siswa gak usah ambisius menghafalkan semua materi. Saya tidak mengingkan siswa mampu menghafalkan materi sama persis sampai ke titik koma-nya suatu materi. Bagi saya, siswa yang kelak berpartisipasi aktif dalam pemilu sudah cukup. Siswa yang nyeletuk,"Oh, itu kerja sama bilateral bidang ekonomi,"saat melihat tayangan di televisi mengenai kerja sama Indonesia dan Inggris. Atau siswa yang mampu menjadi pelopor masyarakat madani. Mengedepankan toleransi, siap bekerja sama dengan orang lain, siap menerima kritik, bersikap ksatria, dan tentu saja menjadi orang yang tidak mudah terprovokasi.
Negara kita banyak orang pandai, tapi masih saja kita menemukan peristiwa bobroknya mental seseorang. Saya bukan lah orang alim, saya masih banyak pula kekurangan. Tapi paling tidak ada keinginan untuk tidak membuat kondisi menjadi lebih buruk.
Ketika engkau tidak mampu memperbaiki suatu keadaan, janganlah membuatnya menjadi lebih buruk.
Saya setuju dengan pemikiran para ahli yang menyebutkan karakter itu sangat penting. Kepribadian, karakter, dan sikap baik lah yan menjadi permasalahan di negara kita. Meskipun karakteristik siswa itu beragam, saya pikir memiliki sikap baik wajib dimiliki oleh semua siswa.
Saya diam bukan berarti saya tidak tahu. Ada kalanya diam itu memberi kesempatan kepada siswa untuk berubah atau untuk tidak lagi mengulangi sikap negatifnya. Kalo masih saja bersikap negatif? Ada kekuatan lebih besar yang akan mengurusnya bukan? :)
No comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.