Saturday, 13 February 2016

Everyone is a teacher here: Open mic

Menurut Anita Moultrie Turner (2008:3), setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Berdasarkan kondisi tersebut, salah satu syarat utama pembelajaran adalah mencintai siswa dengan segala keunikan dan potensi masing-masing.  Salah satu potensi yang terlihat pada siswa di SMA N 1 Satui adalah melakukan Open Mic.
Menurut Wikipedia yang diakses pada tanggal 1 November 2015, pengertian Open Mic sebagai berikut.
Open Mic or open mike (derived from open microphone) is a live show where audience members may perform at the microphone. Usually, the performers sign up in advance for a time slot with the host or master of ceremonies. These events are typically focused on performance arts like poetry and the spoken word, music, and comedy.
Pengertian tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut: Open Mic atau Open Mike yang didapat dari kata Open Microphone adalah pertunjukan langsung dimana terdapat penonton mempertunjukkan kemampuannya melalui mikrofon. Biasanya, penampil mempertontonkan kemampuan mengolah kata dalam waktu tertentu yang diberikan oleh mc suatu acara. Kegiatan semacam ini berfokus pada penampilan seni seperti membaca puisi, pidato, musik, dan komedi.
Menurut Pandji Pragiwaksono, salah satu comic Indonesia, Open Mic adalah acara yang biasa digelar kafe-kafe komedi untuk para pemula yang ingin mencoba kemampuannya dalam melakukan Stand Up Comedy. Apakah perbedaan Open Mic dan Stand Up Comedy? Dari penjelasan Pandji sudah jelas terlihat perbedaannya bahwa Open Mic adalah ajang coba-coba untuk ke depannya melakukan Stand Up Comedy yang identik dengan sisi komersial.
Gagah Raditya, Koordinator Tertawa Sebentar, salah satu komunitas Stand Up Comedy menjelaskan bahwa Stand Up Comedy dikenal sejak abad XVIII di Eropa dan Amerika Serikat. Orang yang melakukan Stand Up Comedy dinamakan Stand Up Comic atau Comic (komika). Para comic biasanya menyampaikan cerita humor, lelucon pendek, atau kritik berupa sindiran dengan berbagai gaya dan gerakan yang dapat didukung dengan penggunaan alat peraga dan membuat catatan kecil.
Beberapa siswa SMA N 1 Satui rupanya memiliki ketertarikan lebih pada kegiatan Open Mic. Beberapa saat sebelum liburan semester 1, saya dan dua guru baru, yaitu Rara dan Ririn ke Kedai Katiga atau Katelu *?!?!* untuk melihat penampilan mereka. Beberapa nama seperti Yutha, Insani, Ansar, Arif, dan Forwanto tampil. Mereka melakukan Open Mic sesuai dengan urutan panggilan dari MC yang juga seorang Comic, yaitu Ramadan. Sebenarnya Ansar tidak ada schedule *pesawat kali* Open Mic, tapi karena special rikues dari Teacher Ririn, majulah doi dengan gagah berani siap lahir batin.

Arif

Insani Travel
Anshar
4-1-to alias Forwanto
Yutha *?!?!* Haha. Anggap saja Yutha masa depan. Lupa ambil foto.
Open mic. Saya pernah mencoba metode ini sebagai semacam pilot project untuk pembelajaran PKn di kelas. PKn adalah mata pelajaran yang penyampaiannya memerlukan banyak metode karena materinya full konsep, mirip dengan Sosiologi. Oleh karena itu, agar siswa tidak bosan perlu adanya variasi dalam pembelajaran, salah satunya Open Mic. Open Mic memiliki kemiripan dengan metode Everyone is a Teacher Here.
Aktivitas Open Mic yang berdasarkan metode Everyone is a Teacher Here merupakan metode pembelajaran yang dilakukan secara langsung oleh siswa. Siswa dengan bimbingan guru menyusun materi yang akan dijadikan bahan untuk Open Mic. Pada awalnya guru membimbing siswa untuk membuat bahan Open Mic. Ke depannya, siswa yang akan membuat bahan sendiri, sama ketika siswa melakukan remedial dengan cara Open Mic. Bimbingan guru masih tetap diperlukan agar bahan Open Mic tetap berada di jalurnya. Dalam arti tidak menyimpang dari materi pelajaran sekaligus terhindar dari komedi tidak sopan. 
Comic cewek: Ayie Koppa
Insani (lagi)
Ramadan
Siswa yang melakukan Open Mic dapat dikatakan belajar dengan melakukan (learning by doing). Sementara itu, bagi teman-teman yang menonton, mereka bisa memperkuat ingatan terhadap materi tertentu sekaligus sebagai hiburan. Konsep ini saya pikir baik karena siswa terhindar dari kejenuhan saat di kelas. Kedepannya saya harap ada bakat2 lain yang keluar, misalnya pantomim mungkin? Hehe.
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan saya rasa cocok menjadi bahan Open Mic karena berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan kita sehari-hari. Ketika siswa melakukan Open mic, siswa dapat mengasah daya pikir kritisnya untuk membuat candaan dalam balutan materi. Open Mic yang dilakukan oleh siswa akan menjadi penguat dari pemaparan informasi saat pembelajaran di kelas, sehingga siswa akan terus bersemangat saat melakukan kegiatan belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
So, would u like to open mic again, students? 

Thursday, 4 February 2016

My Game is a fair game

Di Indonesia bagian sungai danau yang minim fasilitas publik full manfaat seperti mol *sepertinya yang merasakan manfaat mol sepertinya saya seorang*, event2 macam pertandingan olahraga dalam rangka memperingati HUT SMA Tanah Bumbu bak oase di padang pasir. Perlu ditonton sodara! Yang main adalah atlet2 terkemuka SMA Satui pulak! Kalau dalam dunia per-fangirl-an, pertandingan kemarin ibarat Idol Championship yang mana yang main adalah idol2 keren, muda, dan tentu saja demen pamer abs! *abaikan yang terakhir*.
Aktivitas pertama begitu sampai di tempat pertandingan di SMA Tanah Bumbu adalah menusuk pentol! *Maaf, nak, teacher suka emosian plus resek kalo laper*. Setelah perut aman dan hati terkendali, mari nonton pertandingan voli antara SMA N 1 Satui versus Al Kautsar. Kemaren pas pertandingan final futsal, kita para guru muda harapan bangsa telat dan akhirnya nongkrong di bakso sapar sembari mencari oppa lokal. 
Suasana voli yang riuh redam
Ditunggui teacher-nim Mr. Vic dan Coach-nim Mr. Yuni *awas gak menang gak tuntas!*
Ecieee yang ditonton para cewek2 cantek!
Ibarat nonton konser, posisi duduk dengan view macem ini ada di tribun! Paling murah dan paling nyakitin hati!
Panitia tetap bringas meski pake sarung. Menjaga kekondusifan pertandingan adalah jihat bagi mereka!
Selain aksi para atlet SMA Satui yang mantaf abis, yang tidak boleh dikesampingkan adalah aksi para suporternya! Dengan muka pengen dilempar pentol, supporter bergerak heboh sambil nge-dance Mr Mr-nya KARA *sepertinya dia kamilia* dengan menggeol2kan pantatnya. Gerakan heboh tersebut disambut dengan solawat dari tim lawan, maklum dari pesantren bro! Haha. Gak, kok. Kedua belah pihak sama2 hebring dan entah apa yang keluar dari mulut mereka. Gak kedengeran jelas karena suasana riuh dengan berbagai macam teriakan. 
Si kaus item siap merangsek maju! Siap membela tim dengan jiwa raga!
Dan syukur alhamdulilah, berkat usaha pantang menyerah dari para atlet SMA, teriakan dan gerakan heboh dari supporter dan tentu saja atas Rido-Nya, tim voli SMA N 1 Satui keluar sebagai pemenangnya! Hip Hip Horee! Selamat tim voli SMA! Selamat para siswa! Selamat Rizky, Mahdi, Syaid Hamid, Ganda dkk *yang lain gak tahu namanya*.
Hoy Hooy!!!! Tos setelah mendengar ancaman arahan dari coach-nim
Hokyaaa menaang!
Hop Hop Horeeeh!
Salim dolo. Kita kan anak soleh alim menyenangkan
Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Selama pertandingan tidak muncul keributan yang memicu aksi anarkis. Meski sempat ada kejadian pelemparan botol ke pemain Al Kautsar. Sebenarnya kalau sampai ada aksi anarkis, teacher sudah mempersiapkan rute melarikan diri! Untung semua aman terkendali. Kalian semua memang generasi penerus bangsa yang mampu bersikap dewasa dan patut dibanggakan, nak! *kasih permen alpenlibe satu2*.
Pertandingan olahraga adalah salah satu ajang positif yang patut diapresiasi. Dalam pertandingan ada banyak pelajaran. Ada yang menang dan tentu saja ada yang kalah. Yang menang patut bersyukur latihan selama ini menghasilkan prestasi. Yang kalah anggap kekalahan sebagai pembelajaran untuk terus berlatih dengan lebih giat agar lebih baik. Para atlet diajarkan untuk fokus dengan pertandingan, bermain dengan penuh semangat dan tentu saja gembira. Hormon yang dihasilkan dari olah raga baik bagi jiwa seseorang karena menghasilkan hormon endorphin yang menimbulkan perasaan bahagia *bukan begitu, coach-nim?*
Olahraga juga mengajarkan kita untuk bersikap sportif, siap menang dan siap kalah. Ambil semua sebagai pelajaran. Kita siap kita menang, kita gak siap kita belajar menerima kekalahan! *MERDEKAAA!*
Once again: 
Congratulations, guys!

Monday, 25 January 2016

Maulidan man!

Seminggu setelah masuk, tepatnya tanggal 11 Januari 2016 bertemu, menjalani kisah cinta ini, SMA N 1 Satui menggelar peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Bukannya telat, tapi emang kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk segera menggelar hajat ini *daripada enggak hayo?*
Maulid atau peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad di Kalimantan berbeda dengan di Jawa. Seingat saya, tidak ada peringatan Maulid Nabi di sekolah *dolo zaman masih pake seragam putih abu2*, entah sekarang. Kalo di masyarakat, biasanya pengajian. Kalau di rumah, ibu biasanya bikin nasi plus lauk pauk buat nanti kenduri bersama tetangga, ada juga yang saling tukar makanan, misalnya hari ini keluarga saya yang memberi nasi plus lauk pauk ke keluarga besar dan beberapa tetangga. Nah, hari lain giliran keluarga besar yang ngasih ke keluarga saya. Semacam barter lah.
Dan di sindang a.k.a Borneo a.k.a Kalimantan, maulid nabi dirayakan dengan cara lebih keren! Ada penampilan dari kelompok nasyid yang kerennya gak kalah oke dari penampilan Big Bang di GDA kemaren *plaak*. Gaak kok, kalian lebih keren, siswa SMA N 1 Satui dari eskul Rohis. JJang!
I found them so cool! Awesome! Saya selalu suka dengan para siswa yang memiliki keterampilan tertentu. Pandai bersair, pandai menepuk *?!?!* rebana, pandai membaca Alquran, dan ada yang pandai berdakwah. Teruskan nak, kalian adalah generasi yang kami *para guru* harap akan membawa Indonesia ke zaman emas! Mengalahkan Korea Selatan dengan pasukan boyband dan girl group-nya! Baimbai Kita Kawa!!! Horas baah!
Ya sudah, masih banyak moment yang perlu saya posting. Langsung cekidot foto2nya lah…






Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya

Saya sempat mengkerutkan dahi *emang sudah banyak sih kerutnya* ketika semua berdiri. Tiba2 ada siswa yang keliling membawa bungkusan mungil berisi permen sama irisan daun pandan. I passed that candy. 







Suka sih baunya cuma baunya mengingatkan pada bau lezat carang gesing macam ini sumber
massitta
Taklama muncul siswa lain yang membawa sebotol wangi2an. 


Kata mbak rara, pada saat itu konon Rasululloh yang menyukai bau harum datang. Untung tadi sempat nyemprot trika.

Makan!

Yang tidak boleh terlupakan dalam suatu majelis adalah makan bersama! Konsep makan bersama cocok sekali dengan kondisi anak kos! Kesempatan isi perut perbaikan gizi terbuka lebar! Sikat nak! Habiskaaan! Rusuh gakpapa asal logistik terjaga untuk seharian! Lumayan bukan?





We always need cekrek

Dalam setiap kesempatan hendaknya kita membuat kenangan. Cara paling mudah adalah dengan cekrek! 
 
 

Sunday, 13 December 2015

Desember Tlah Tiba!!

Desember tlah tiba
Desember tlah tiba
Kita bergembira!!
Minggu pertama Desember yang sekaligus minggu terakhir November saatnya menulis saran kritik dan masukan sekaligus melakukan cek mengecek nilai yang belum tuntas. Kegiatan pada minggu pertama Desember juga dimeriahkan dengan adanya drama musikal kelas XII! Ini sungguh menarik! Sekolah ini benar-benar Jjang! Hebiaat! 
Para sahabat Noah duduk rapi menanti drama musikal dimulai
Aksi dari kakak kelas yang menggetarkan jiwa
Gak kalah dari drama musikal Dancing In The rain
Drama Satui pun di mulai
E cieeee CIEEEEEE
Jumat barokah yang ngebuat kegiatan ekstrakurikuler menjadi kacau karena pembina eh anggota ektra pada ikutan hebring! Bagus nak! Kegiatan semacam ini bagus untuk memupuk rasa percaya diri kalian!
Kegiatan lain di hari-hari menjelang Ujian Semester Satu adalah bantuin Miss Rara mengecek hasil praktikum siswa KIR. Ini artinya, bisa icip2 telor asin yang dibuat siswa. 
Muka tegang Winda saat mencuci telor
Antri pang!
Para lakian sibuk dengan telur asin mereka 
Miss Rara memberi pengarahan secukupnya
Miss Rara mencoba bertahan dari rayuan maut Tyesia agar nilainya tuntas
Baik. Setelah cukup dengan telur asin, kita akan membahas kegiatan lain, yaitu memberi saran, kritik, dan masukan pada pembelajaran saya. Well, emang agak perih ketika ada masukan bahwasanya cara menjelaskan saya kurang jelas, terlalu cepat, dan tidak mudah dipahami. Duh, nak ibu seperti butiran debu yang terhempas di padang pasir *mulai kehilangan arah*. Kritik, saran, dan masukan memang tidak mudah diterima. Akan selalu terasa nyesek, KZL *bahasa apa pula ini?*, dan tidak enak. Tapi, ini adalah proses. Kritik, saran, dan masukan adalah bagian dari era keterbukaan bukan? Haha.
Kita akan terus berkembang ketika kita terus belajar dan menerima masukan dari orang lain. Tapi ingat, kita hanya perlu mendengarkan saran, masukan, dan kritik yang membuat kita mampu meningkatkan kualitas diri kita. Kalau ada omongan yang membuat down, jatuh dan tidak bisa bangkit lagi *ter-butiran debu* lupakan! FORGET THAT, DUDE! Dan ini memang tidak mudah. Kita hidup dalam era dimana komentator sudah menjadi pekerjaan sampingan. Buanyaak banget yang komen-able, mudah dikomentari, misalnya kenapa si A makan sendiri, kenapa si B gak punya pacar, kenapa si C gak bisa melupakan kisah kasihnya? Ato kenapa Lee Jong Suk tidak segera mengkonfirmasi hubungannya ddengan Park Shin Hye?? Gak ada yang salah dengan komen mengkomen, yang salah adalah ketika komentar itu sudah mengganggu orang lain. Mengganggu bukanlah ciri masyarakat madani bukan? J
Baik hakseng! Ssaem akan memperbaiki cara mengajar ssaem *duilah bahasanya*. Ibu guru akan menjelaskan dengan santai seperti di pantai dan slow seperti di pulau. Ibu juga akan berusaha menjelaskan dalam bahasa manusia biasa, manusia biasa, bukan bahasa diseret. Haha. Jadi inget ketika dulu ada teman yang bilang,”Mika tu kalo cerita gak cetho”. Well, that’s why I have no interest in teaching. Haha. Tapi nyatanya sekarang? *RASAKAAN**Mengejek diri sendiri*
Daan untuk membuat kelas ceria penuh canda tawa, ibu guru menyeraah! MENYERAAH! Spesialisasi ibu guru adalah membuat kelas menjadi TEGANG, HOROR, dan NGERI2 GIMANA GITU *Hahaha*. Ibu guru serahkan pembelajaran yang penuh cerita, penuh canda kepada guru lain. Hidup harus seimbang, ada yang lucu, ada yang tegang, menakutkan dan bikin sesak nafas. Haha.
Setelah memberi masukan saran kritik dll itu, saya mengajukan opsi kepada siswa apakah semester dua nanti pake LKS atau tidak. Suara terpecah menjadi tiga! Kondisi mulai rusuh! Suara agar memakai LKS mencapai 5 juta suara! Suara yang tidak usah pakai LKS berada pada kisaran  satu juta empat ratus ribu rupian! *?!?!?!?* dan suara untuk tetap menjadi kpopers turut memanaskan suasana!
LKS. Saya seperti berada dalam dilema yang besar. Teringat ketika dulu bapak pernah bilang kalo LKS bikin guru  tidak produktif. Jam pertama LKS. Jam terakhir panas LKS. My LKS My Everything-lah! Dan saya takut jadi bergantung pada LKS. Zaman gak ada LKS, semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karyo, Tut Wuri Handayani benar-benar dipraktikkan oleh guru. Di depan memberi contoh, di tengah menyemangati, dan dibelakang memberi dorongan tanpa batas! Ini keren sekali bukan dibandingkan hanya mengandalkan LKS? Bukannya saya tidak setuju dengan adanya LKS, mengingat dulu saya juga pernah bekerja di penerbitan. Tapi ketika buku pendamping alias LKS itu dijadikan bahan pokok utama, that’s a problem.
Proses pembuatan LKS yang saya tahu tidak sederhana, apalagi yang dari Intan Pariwara. Berat men! Satu bab saja para penyusun diberi waktu 3 hari. Itu dengan tingkat revisi 80% lebih. Dulu saya sampai mabok ngerjain sampai tengah malam ditemani oleh suara Oppa yang terus menerus meneriakkan “Minaaah”! Candaan saya dulu saat berada dalam kondisi teler bikin soal adalah kita para penyusun soal kayaknya butuh metilon, itu pas zamannya Rafi Ahmad terjerat kasus narkoba jenis baru. Ato membayangkan kalo kita di Korea, kita pasti sudah mabok soju saking stresnya. Haha. Kalo di Indonesia ya mabok yakult lah. 
Luar biasa sekali proses bikin LKS yang disebut dengan PGPR di Intan Pariawara. Belom kalo ada perubahan mendadak yang mempermainkan para penyusun tanpa perasaan. Makin jumpalitan lah kita, ini terutama ketika masa penyusunan Detik UN. SKL bisa keluar ketika kita sudah saatnya pulang! Hayoloooh! Mabok mabok deh!
Kalo udah sampai tahap editing sih, lumayan bisa napas kita. Sehari baca satu naskah PGPR mah oke. Iya dibaca doang, tanpa diedit. Haha. Penerbit lain juga tidak kalah luar biasanya, meski berada di bawah tingkatan PGPR. Saya suka sebenarnya dengan PGPR karena lengkap dan info terbaru (rubrik sekilas info kalo dulu) oke punya. Karena tuntutan menyajikan informasi terbaru membuat para penyusun memutar otak dan mencari info terbaru yang keren sesuai dengan materi, misalnya mengenai 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut ahli kenegaraan Pancasila tidak bisa dijadikan salah satu dari 4 pilar itu karena Pancasila itu sudah menjadi dasar negara. Atau informasi mengenai pembatalan UU Koperasi yang baru karena dianggap berbau korporasi sehingga menghilangkan nafas kekeluargaan. Belom lagi para penyusun bikin RPP dan Silabus. Benar2 luar biasa! Yah, hendaknya saya musti bijaksana. Daripada uang 12-13 rebok itu habis buat beli pentol doang mending buat beli PGPR ya kalo? Tapi juga jangan sampai PGPR menjadi buku sakral yang tanpanya saya jadi kehilangan arah! Amin.